Inikah Generasi Anak?

Setahun belakangan ini, dunia hiburan di televisi kembali dirajai oleh musik dangdut. Karena ratingnya naik, tentu saja jam tayang pun semakin lama. Animo masyarakat pun tak terbendung mengikuti arus. Dua media yang heboh mendangdut adalah MNC tv dan Indosiar. Setiap malam keduanya saling bersaing merebut hati pemirsa. Bahkan, sore hari pun acara sudah dimulai. Pemirsa dari kalangan ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak, saling berebut remot televisi—ini terjadi kalau televisi di rumah memang terbatas. Bapak-bapak pengin menonton berita atau bola, ibu-ibu pengin menonton dangdut, remaja pengin menonton GGS (Ganteng-Ganteng Serigala), sedangkan anak-anak di bawah umur hanya pasrah mengikuti orang tua karena memang tak ada tayangan anak-anak di malam hari. Anak-anak hanya gigit jari!

Selain itu, ada juga keluarga seisi rumah yang kompak satu suara menonton dangdut. Karena maraknya dangdut, bapak-bapak dan para remaja yang tak sepaham dengan ibu-ibu pun mengalah. Tayangan favorit mereka pun tersingkirkan. Akhirnya, mereka mengikut kepada mulut ibu-ibu yang ‘cerewet’ itu. Mengapa saya sebut ibu-ibu? Karena rata-rata yang menguasai remot televisi untuk urusan dangdut adalah ibu-ibu. Begitulah fakta yang saya temukan—entah bagi Anda. Terutama di kampung-kampung, dangdut tak pernah sepi. Tak pernah terlewatkan. Lantas, siapa yang jadi korban?

Saya sebut saja anak-anak—terutama yang masih balita dan sekolah dasar. Anak-anak yang setiap hari dicekoki orangtuanya menonton dangdut ternyata secara tidak langsung mengubah perilaku anak-anak tersebut. Ini terjadi pada salah satu anggota keluarga saya— adik saya.  Ia perempuan dan masih kelas tiga sekolah dasar.

Begini ceritanya, suatu hari tiba-tiba adik saya menangis dihadapan ibu saya. Ketika ditanya, adik saya diam saja. Ibu saya agak kesal. Ibu saya bertanya lagi. Adik saya pun menjawab sambil menangis “beli kaset (CD) akumah apa atuh!” Ibu saya langsung mengerti, karena ia juga hobi dangdut. “Itu salah satu lagu Cita-Citata, kan,” ujar ibu saya. Lalu ibu pun menyuruh saya mengantar adik membeli CD Cita-Citata (tentu yang bajakan karena di kampung tidak ada penjual CD original). Saya hanya geleng-geleng kepala sambil bercibir “Ibu dan anak sama saja!”

Kepada ibu, barangkali saya tak menyoal. Yang saya prihatinkan adalah perilaku adik saya yang menangis hanya demi Citata-Citata itu, demi dangdut. Mengapa bukan menangis minta buku, atau minta lagu anak-anak, atau apa, yang sekiranya masuk akal untuk seusianya. Di rumah, adik saya pun tak kenal waktu memutar lagu “Aku mah apa atuh” dari Cita-Citata itu.

Yang membuat saya heboh, ia mengajak teman-teman seusianya ke rumah. Beberapa hari kemudian, adik saya dan teman-temannya itu tiba-tiba mendadak hapal lagu-lagu dangdut itu. Juga ikut berlenggak-lenggok seperti penyanyi yang dilihatnya itu. Bagaimana kalau apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu yang tidak senonoh. Toh, banyak artis dangdut yang tak keruan berpakaian dan berlenggak-lenggok. Untung saja ketika saya membeli CD itu, videonya masih tergolong standar. Jadi, saya tak begitu khawatir. Karena di luar sana, sebut saja di youtube, banyak video Cita-Citata yang model klipnya tak layak dilihat oleh anak-anak (baca: cewek seksi).

Jujur, sebagai kakak, juga sebagai penghuni rumah, saya cukup terganggu dengan ulah adik saya itu. Akhirnya saya nasihati, jangan terlalu kencang volume televisinya. Juga jangan berisik mulutnya. Ia dan teman-temannya duet, sekaligus adu hapalan lagu. Saya semakin geleng-geleng kepala. Saya larang pun mereka pasti akan memberontak dan menyalahkan saya, juga orangtua saya. Seperti yang sudah-sudah.

Sepertinya adik saya sudah lelah. Ia pun mematikan televisi dan berpindah ke kamar saya. Tiba-tiba ia bertanya pada saya yang sedang membaca buku, “Kak, selingkuh itu apa, pacar gelap itu apa?” Saya menelan ludah mendengarnya. Saya yakin pertanyaan itu adalah reaksi atas lagu Cita-Citata itu, juga karena sampai ia menghapal liriknya itu. ‘Selingkuh’ tidak saya jawab, hanya ‘pacar gelap’ yang saya jawab. Itu pun sambil bercanda. Entah, ia mengerti atau tidak. Dalam hati kecil, saya amat cemas, inikah generasi anak-anak zaman sekarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s