Filsafat Jawa

Filsafat Jawa telah tumbuh berkembang sejak jaman dulu, ketika orang Jawa menggunakan bahasa Jawa Kuna. Dalam zaman itu, tradisi sastra telah berkembang amat pesat.

Filsafat diartikan suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar”, apa yang ada dalam banyak perenungan di Jawa yaitu suatu usaha untuk mengartikan hidup dengan segala pangejawantahannya, mansia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang nampak dengan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, adalah merupakan pemikiran filsafat.

Kita telah mengenal pujangga Empu Kanwa yang mengarang Kakawin Arjuna Wiwaha, Empu Prapanca yang menulis Negara Kertagama, Empu Tantular yang menulis Kakawin Sutasoma, dan sebagainya.

Dalam karya sastra Jawa Kuna itu di dalamnya terkandung berbagai kebijaksanaan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Jawa, dan di situlah sumber utama Filsafat Jawa. Demikian juga, dalam kesusasteraan baru, kita kenal Serat Centhini yang ditulis oleh Paku Buwono V pada abad delapan belas, Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan karya satra Jawa baru lainnya. Dalam berbagai karya sastra Jawa baru itu terkandung nilai-nilai kebijaksanaan hidup yang merupakan bagian dari Filsafat Jawa.

Filsafat India dan Cina mempengaruhi filsafat Jawa, namun sesudah Islam masuk, banyak konsep India dan Cina yang diubah sesuai ajaran Islam. Mirip dengan filsfat India, filsafat Jawa juga menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berfikir dan merenungi dirinya dalam ranka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup manusia Jawa. Pemikiran-pemikiran Jawa merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Filsafat Barat dan filsafat Jawa memiliki tujuan yang sama, yaitu mengenal diri. Namun demikian, cara pencapaian dan pengembangannya berbeda. Di samping pandangan tentang hubungan antara manusia dan alam berbeda, hubungan manusia dengan Tuhan juga berbeda. Bagi filsafat Yunani, filsafat berarti cinta kearifan (the love of wisdom), pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Filsafat Jawa dirumuskan sebagai filsafat yang berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection).

Bukti bahwa filsafat Jawa ada, penelitian dalam kesusasteraan Jawa belumlah jauh benar, namun cukup jauh untuk menjadi dasar bahwa filsafat Jawa ada. Malahan kita tidak perlu mencari dalam kesusasteraan untuk memperoleh pemikiran filsafat.

Sekedar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam bangsa Jawa, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Werkudara, yang dalam mencari air kehidupan untuk memperoleh wirid dalam ilmu sejati, dapat dipakai sebagai petunjuk betapa pemikiran dalam fisalafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa.

Filsafat Jawa, sebagaimana dikemukakan oleh Zoetmulder mengandung pengetahuan filsafat yang senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Berfilsafat dalam kebudayaan Jawa berarti ngudi kasampurnan. Manusia mencurahkan seluruh eksistensinya, baik jasmani maupun rohani untuk mencapai tujuan itu. Eksistensi manusia diasumsikan sebagai kenyataan, dari kenyataan itu dipertanyakan dari mana asalnya, ke mana ujuannya.

Di dalam filsafat Jawa dapat dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubungan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan alam semesta serta meyakini kesatuannya. Manusia menurut filsafat Jawa adalah: manusia-dalam- hubungan. Manusia dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.

Dalam filsafat Indonesia kejawen, Tuhan dan ciptaannya itu ya sama, ya berbeda. Tuhan itu baik transenden dengan total (tan kena kinayangapa) dan imanen secara total (pamoring kawula Gusti). Susunan sifat-sifat manusia dan alam dikuasai klasifikasi, dengan dua ciri, pertama, segala bidang kenyataan digolongkan menjadi lima unsur asasi, empat yang padu dalam yang kelima (moncopat, kala mudheng, pancasuda). Prototipe adalah dunia bersudut empat dengan satu pusat (papat keblat, kalima pancer), menurut urutan selatan, barat, utara, timur, pusat, hari-hari digolongkan legi, paing, pon, wage, kliwon.

Demikian juga terkait dengan warna-warna, dengan pohon-pohon, dengan sifat-sifat manusia, dan sebagainya. Kelima unsur di bidang yang satu masing-masing memiliki parner pada setiap bidang lain (kiblat angin, warna, dan sifat), dan di antara partner-partner dari bidang-bidang yang berbeda-beda itu terdapat kesatuan, bahkan identitas baku, sehingga mereka dapat ditukarkan satu sama lain (warna tertentu dengan pohon tertentu, atau dengan sifat tertentu). Partner-partner dalam setiap persahabatan harus selaras satu sama lain, mewujudkan kohesi dan harmoni. Kedua, antara manusia (buana kecil atau mikrokosmos) dan alam (buana besar atau makrokosmos) ada keselarasan progresif, tetapi bukanlah identitas. Tatanan abadi dipartisipasikan oleh manusia (homologi dan antropokosmis).

Daftar Pustaka

Arif, Syaiful, 2010. Refilosofi Kebudayaan. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Bakker, Anton, 1992. Ontologi Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan. Yogyakarta: Kanisius.

Ciptoprawiro, Abdullah, 1986. Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Kamajaya, Karkana, 2007. “Manusia Jawa dan Kebudayaannya dalam Negara Kesatuan RI” dalam Menggali Filsafat dan Budaya Jawa. Surabaya: Lembaga Javanologi Surabaya.

Kodiran, 1979. “Kebudayaan Jawa” dalam Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Kusbandriyo, Bambang, 2007. “Pokok-pokok Filsafat Jawa” dalam Menggali Filsafat dan Budaya Jawa. Surabaya: Lembaga Javanologi Surabaya.